Handphone : +62 821 2663 0047

Email : smdtandang@gmail.com

image

Oleh: Andrea Blessia M. M. Siahaan
Seorang Mahasiswi di Jatinangor

Indonesia adalah Negara yang dikenal karena keanekaragaman yang dimilikinya. Negara yang terbagi menjadi 17.504 pulau ini terletak pada kondisi suhu dan iklim yang berbeda sehingga berpengaruh pada terbaginya jenis flora dan fauna di Indonesia. Faktor tersebut memicu keanekaragaman flora dan fauna di Indonesia. Ikon flora di Indonesia cukup mengusung nama Indonesia menjadi Negara yang hijau dan asri.

Sangat disayangkan, lingkungan hijau dan kekayaan alam ciptaan-Nya dirusak begitu saja tanpa rasa bersalah oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Indonesia menempati peringkat kedua di dunia sebagai Negara yang kehilangan luas hutan tertinggi, seperti yang dilansir dari data Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Indonesia kehilangan hampir 680.000 hektar luas hutan setiap tahunnya. Keegoisan manusia merusak hutan lewat penebangan pohon secara massal semata-mata hanya untuk kepentingan pribadi tanpa mempedulikan fungsi hutan sebagai paru-paru dunia. Pohon-pohon yang ada di hutan menyumbang nafas kehidupan bagi manusia, yaitu oksigen. Tak hanya menyumbang nafas kehidupan, udara yang tercemar pun disaringnya untuk menjaga kesterilan udara yang dihirup manusia. Air bersih yang dikonsumsi secara cuma-cuma oleh manusia juga merupakan bagian dari manfaat pohon. Begitu baik manfaat yang diberikan oleh pohon untuk menjaga kelangsungan hidup manusia, lantas mengapa masih ada tangan-tangan tak bertanggungjawab? Kurangnya edukasi akan pentingnya pohon dan kampanye yang belum begitu menarik masyarakat sehingga memicu lahirnya tangan-tangan tak bertanggungjawab.

Kampanye Lingkungan Hijau yang Menarik

Jika tangan-tangan tak bertanggung jawab semakin bertambah, keseimbangan ekosistem di Indonesia akan terancam. Sudah saatnya, masyarakat peduli dan harus meningkatkan kepeduliannya terhadap pemeliharaan pohon di lingkungan sekitar bukannya malah merusak hanya demi kepentingan pribadi. Upaya untuk mengatasi hambatan rendahnya edukasi masyarakat tentang pentingnya pohon dapat dilakukan melalui aspek komunikasi.

Pertama, menyebarluaskan pengetahuan masyarakat tentang Hari Menanam Pohon Nasional setiap 28 November. Jarang diketahui masyarakat bahwa tanggal 28 November adalah Hari Menanam Pohon Nasional. Padahal, hari peringatan ini mampu menjadi sarana untuk mengimplementasikan rasa kepedulian masyarakat terhadap kontribusi lingkungan hijau lewat pemeliharaan dan penanaman pohon. Di zaman penyebaran informasi secara digital, penyebarluasan informasi tentang Hari Menanam Pohon Nasional setiap 28 November dapat dikemas dalam bentuk yang menarik di media sosial sehingga pesan diterima dan ditanggapi dengan baik oleh masyarakat. Sebagai contoh, gerakan mengunggah foto dengan twibbon aksi menanam pohon di media sosial Instagram. Konten twibbon dapat memuat aksi gerakan mengganti penggunaan tisu dengan lap kecil untuk menyelamatkan keberlangsungan pohon dari ancaman penebangan pohon sebagai bahan baku industri tisu. Alangkah baiknya, beberapa influencer yang terkenal di kalangan muda-mudi dan dewasa dijadikan pelopor untuk mengunggah foto dengan twibbon tersebut.

Kedua, penanaman sikap dan karakter kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan hijau lebih efektif dilakukan pada khalayak yang sedang menuntut ilmu, khususnya di perguruan tinggi. Komunikasi akan berjalan lebih efektif karena khalayak yang sedang menuntut ilmu masih memiliki ketertarikan dan rasa keingintahuan yang tinggi terhadap segala jenis informasi dan kegiatan baru Universitas Padjadjaran menerapkan penanaman karakter peduli lingkungan lewat sistem mata kuliah umum yang membahas seputar Sustainable Development Goals kepada mahasiswa tingkat pertama. Penerapan poin ke-15 dalam Sustainable Development Goals diimplementasikan lewat penanaman bibit pohon pada salah satu mata kuliah umum.

Ketiga, dukungan yang diberikan oleh komunitas menanam pohon yang telah dibentuk. Sebetulnya, komunitas menanam pohon di Indonesia sudah banyak. Hanya saja, anggota yang tergabung di dalamnya terbatas pada khalayak yang sepemikiran. Khalayak sepemikiran yang dimaksud adalah khalayak yang sudah memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga dan menanam pohon. Setelah masyarakat telah teredukasi dan terpapar oleh informasi akan pentingnya pohon, saatnya komunitas menanam pohon untuk melakukan gerakan aksi nyata. Gerakan tersebut dapat dilakukan dengan membuat acara yang menarik bagi berbagai kalangan. Komunitas menanam pohon dapat membuat acara jogging ceria yang sedang naik daun di kalangan masyarakat namun dikemas dengan arahan untuk membawa dan menanam bibit pohon saat acara tersebut berlangsung. Penentangan aksi penebangan pohon secara liar perlu digalakkan dengan disertai informasi mengenai manfaat pohon bagi kehidupan. Selain menarik, masyarakat juga akan memercayai kredibilitas setiap informasi dan arahan yang diberikan oleh komunitas menanam pohon.

Sayang sekali, Indonesia sebetulnya memliki potensi kekayaan alam dan pengetahuan sumber daya manusia yang baik. Namun tetap saja kesadaran masyarakat akan pentingnya pohon bagi kehidupan masih pada tingkatan yang rendah karena ada kesalahan dalam edukasi dan pengemasan informasi yang menarik. Apabila edukasi dan pengemasan informasi mampu menarik masyarakat, setidaknya statistik penebangan hutan secara liar akan menurun.

Warta Terkait
Komentar
Img

Subscribe to our Newsletter

Just sign up and we'll send you a notification by email.