Sebagai orang yang dibesarkan di Jatinangor, saya merasakan sekali perubahan fisik di Jatinangor. Yang asalnya Jatinangor (dulu Cikeruh) rimbun, sepi, sekarang sudah mirip desa rasa kota. Ada mall, kampus-kampus, jejeran pertokoan, sampai apartemen. Jatinangor seolah magnet para investor untuk mendulang uang di Jatinangor. Bahkan, apartemen tidak hanya dibangun di pinggir jalan besar, malah semakin mendesak lebih atas ke Gunung Manglayang.
Di satu sisi, mungkin positifnya ada. Banyak bisnis dibuka, menyerap banyak tenaga kerja. Akses untuk membeli bahan kebutuhan lebih mudah, tidak harus jauh-jauh ke Bandung. Namun, sisi negatifnya rasanya lebih banyak. Dari sisi lingkungan, lahan hijau semakin sedikit. Air bersih semakin sulit, tersedot banyak oleh bangunan apartemen. Pembangunan yang semakin mendesak ke gunung, mengakibatkan banjir ke hilir. Belum masalah sampah. Apalagi, saat ini sedang proses pembangunan jalan tol Cisumdawu, jalan-jalan yang terlewati truk-truk besar menjadi rusak, debu tebal, serta suara bising sangat mengganggu. Masyarakat yang desa-nya akan terbelah oleh jalan tol pun tak kalah resah. Para penjual oleh-oleh yang biasa terlewati mulai cemas, karena akses pembeli akan hilang akibat jalur tol. Dari sisi sosial tak kalah mengkhawatirkan, gaya hidup masyarakat menjadi bebas, ancaman pergaulan bebas, narkoba, sampai HIV/AIDS. Inilah dampak dari pembangunan fisik yang pesat tidak diiringi oleh pembangunan mental yang baik.
Kiranya pemerintah perlu merenungkan kembali tentang orientasi pembangunan infrastruktur ini. Jangan semata untuk kepentingan pemilik modal. tapi benar-benar sesuai dengan kebutuhan rakyat. Misalnya, apa benar tol itu untuk rakyat? Rakyat yang mana? Dananya dari mana? kalau berhutang, ujung-ujungnya rakyat yang harus bayar. Apa benar apartemen-apartemen itu dibutuhkan? Bagaimana dengan bisnis kos-kosan warga yang terancam? Jika memang perlu dibangun, kiranya perhatikan dan penuhi hak-hak rakyat dalam hal ganti rugi, keamanan dan kebersihan lingkungan. Pemerintah juga perlu memperhatikan mana saja tempat dan lokasi yang layak untuk dilakukan pembangunan. Jangan brutal, mengorbankan gunung dan lahan hijau.