Deskripsi
Pondok Pesantren Al-Mahmud berlokasi di Kecamatan Tanjungsari, tepatnya di belakang kantor Kecamatan Tanjungsari. Pada awalnya, pondok pesantren (ponpes) ini memiliki nama Al-Birkah yang didirikan pada tahun 1973 oleh K.H. Mahmud.
KH. Mahmud sebagai pendiri ponpes ini merupakan seorang tokoh masyarakat yang dikenal luas masyarakat setempat. Maklum saja, pada waktu itu ia adalah Ketua Kantor Urusan Agama (KUA). Bahkan ia semakin dikenal masyarakat Sumedang dan Serang setelah ia menjadi Ketua KUA Sumedang kemudian berlanjut menjadi Penghulu Karesidenan Serang. Setelah pensiun, kemudian ia kembali lagi ke Tanjungsar.
Pada tahun 1973, KH Mahmud mendirikan pondok pesantren tepat di cekungan yang pada zaman penjajahan Belanda dulu merupakan kolam besar atau situ. Dari sinilah asal muasal pemberian nama ponpesnya dengan nama Al-Birkah. Al-Birkah dalam dalam bahasa Arab berarti situ. Ketika pada tahun 1984 pendiri ponpes, KH. Mahmud meninggal dunia, kepemimpinan ponpes beralih kepada salah satu menantunya yang sangat aktif berperan memakmurkan Al-Birkah yakni KH. Sobana. Untuk mengenang jasanya dalam mendirikan dan merintis ponpes inilah, maka atas kesepakatan keluarga besar, pada tahun 1990, Ponpes Al Birkah berganti nama menjadi Ponpes Al-Mahmud.
Letak pondok pesantren yang berdekatan dengan pasar lama Tanjungsari memberi dampak positif bagi warga sekitar. Pada awalnya masyarakat Tanjungsari tidak terlalu menonjol dalam kegiatan keagamaan, dan setelah adanya pondok pesantren Al-Birkah/Al-Mahmud mayarakat mendapatkan dampak positif dengan rutin diadakannya pengajian umum yang diikuti oleh beragam kalangan masyarakat. Pondok pesantren ini dikhususkan bagi santri laki-laki namun untuk Diniyah Takmiliyah Awaliyah terbuka untuk umum.
Berkaitan dengan materi yang diberikannya, ponpes Al-Mahmud hanya mengajarkan ilmu-ilmu alat, tauhid dan fiqih. Sementara untuk pengetahuan umumnya, biasanya para santri belajar di sekolah umum di luas ponpes. Waktu belajarnya setiap selesai sholat fardhu, kecuali untuk santri yang sedang berada di luar lingkungan pesantren karena sedang sekolah atau kuliah. Setiap ba'da Shubuh diadakan pengajian dengan sistem bandungan. Ba'da Zhuhur belajar dengan sistem sorogan, ba'da Ashar berupa talaran. Sementara ba'da Maghrib atau ba'da Isya' diadakan diskusi mengenai berbagai masalah yang ditemukan terkait materi yang dipelajari. Sejumlah kitab yang dipelajari ialah Kitab Suci Al-Quran, kitab-kitab nahwu, sharaf, balaghah, tafsir dan hadits, tauhid, fiqh dan tasawuf.
Santri yang belajar agama di ponpes Al-Mahmud tidak hanya yang mondok di ponpes, tapi juga ada santri yang tidak mondok atau istilahnya santri kalong. Santri yang mondok juga sebagian ada yang sambil menuntut ilmu umum di lembaga pendidikan umum seperti sekolah SMP dan SMA di Tanjungsari dan universitas sekitar Tanjungsari seperti UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UNPAD Jatinangor, UNWIM Tanjungsari dan Jatinangor, dan IKOPIN Jatinangor.
(Dari berbagai sumber termasuk Ponpes Al-Mahmud Tanjungsari)
Detail Kontak
Pemilik/Pengelola
Berdiri
1973
Alamat Lengkap
Jalan Nusa Indah 06, Kampung Situ Rt. 04/02 Desa Tanjungsari Kecamatan Tanjungsari
Nomor Telepon
022-7911166
Nomor Handphone
08997143173
Pin BB
Web Site
PONPES AL-MAHMUD TANJUNGSARI
Operasional
Ahad
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Keterangan
Produk/Layanan
Pembelajaran ilmu-ilmu alat
Ilmu Nahwu, Ilmu Sharaf, Ilmu Balagah, Ilmu Tajwid, Mantik, Qaidah Ushul Fiqih, Ulumul Hadits, Ulumul Qur’an, dsb.
Pembelajaran ilmu-ilmu praktis
Ilmu Fiqih, Tashowuf, Akhlak, Aqidah, dsb
Pengajian sorogan
Setiap ba’da Dzuhur
Hapalan pelajaran
Belajar ceramah/khitobahan
Seni Baca Al Qur’an
Tahfidul Qur’an
Meghapal bersama
Bahtsul Masailidiniyyah
Mempelajari ilmu keagamaan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat
Seni Hajir Marawis dan Hadroh
Lokasi Sejenis
Lokasi Terdekat
Komentar/Review
Write a ReviewR. Antartikka Nalar
25 Oktober 2019
Bapak KH. Mahmud atau sering dioanggil oleh cucu2 nya dengan sebutan Bapak sepuh memiliki 9 anak, 8 putri dan 1 putra. Untuk ralat saja jabatan bpk KH. Mahmud yaitu Kepala Depag Sumedang, lalu Kepala Depag Serang bukan penghulu.