Pasca pemberontakan Dipati Ukur, Sultan Agung Mataram mengeluarkan piyag?m pembentukan beberapa kabupaten baru di Priangan pada tahun 1641 (sebagian ada yang berpendapat terjadi pada tahun 1633).
Beberapa kepala umbul yang dianggap berjasa dalam penumpasan pemberontakan diangkat menjadi bupati. Salah satunya adalah Ki Somahita, kepala umbul Sindangkasih di kaki Gunung Sawal yang diangkat menjadi bupati Kabupaten Parakanmuncang dengan gelar Tumenggung Tanubaya.
Pusat pemerintahannya berada di Parakanmuncang, yang terletak diantara Gunung Kareumbi dan Gunung Bukit Jarian. Sekarang di sekitaran Desa Sindangpakuon Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang. De La Faille dalam Preanger Schetsen (1895) mencatat lokasi tersebut di dekat salah satu titik di Sungai Citarik tempat mengarak/mengiring ikan untuk ditangkap (parakan) dengan pohon kemiri (muncang) di sekitarnya.
Menurut catatan VOC tahun 1686, Kabupaten Parakanmuncang memiliki 35 negorij (desa) dengan 872 keluarga. Mata pencaharian penduduknya adalah berkebun lada, membuat zat pewarna, tikar, katun, lilin, mengolah gelagah dan mengumpulkan sarang burung.
Pada masa lalu beberapa wilayahnya disebut Andawadak, Kandangwesi, Batulayang, Taraju, Selacau, Galunggung dan lain-lain.
Kabupaten ini terfragmentasi dalam tiga wilayah. Dalam peta sekarang, bagian pertama membentang dari sekitar Tanjungsari hingga Bungbulang dan pantai selatannya. Bagian kedua sekitar Cililin dan ketiga sekitar Singaparna dan Rajapolah.
Pada tahun 1810 Daendels memerintahkan pemindahan pusat Kabupaten Parakanmuncang ke Andawadak, di sekitar Tanjungsari untuk mendekati Jalan Raya Pos sebelum akhirnya kabupaten ini dibubarkan pada 1813, ketika Raffles berkuasa.
By: Wanto
(Sumber: facebook)